KIRA YANG NYATANYA TIDAK AKAN MENJADI NYATA Karya Khovifah Nur W. A. - Finalis Kontes Puisi dalam Cerita (2024)


Aku kira bersamamu lagi akan hadirkan bahagia

Aku kira kembali lagi denganmu akan berbeda

Aku kira mengharapkan tidak akan sia-sia

Nyatanya semua hanya aku kira ya?

Hai, aku Ovif. Aku menyukai seseorang sejak awal SMP. Aku kira, kisah ini cuma akan bertahan sebentar layaknya cinta monyet, ternyata sudah 7 tahun berlalu hatiku masih memilihnya.

Laki-laki itu namanya Adhi. Aku kenal dia semenjak kelas 4 SD. Namun, dia bukan teman sekolahku, melainkan teman satu tempat mengaji denganku. Aku menyukainya tanpa adanya alasan. Oleh karena itu, aku mengira cinta ini cuma sekadar cinta monyet saja. Aku sudah beberapa kali menyukai orang lain, tetapi tetap saja pada akhirnya hatiku tau kalau harus memilihnya.

Berawal di masa SMP, aku menyukai Adhi tanpa alasan yang jelas. Mungkin juga pengaruh kelabilan pikiranku di masa ini. Saat itu, kukira aku sudah dekat dengannya. Namun, yang menurutku begitu, belum tentu menurutnya juga. Dia pernah mengatakan kepadaku bahwa dia memiliki pacar. Sejak saat itu, perlahan aku mulai menjauh darinya.

Aku pun mencoba menyukai laki-laki lain dan berusaha untuk benar-benar melupakannya. Ternyata tidak semudah itu. Dia dan aku kembali dekat saat kelas 9 SMP karena dia sudah tidak bersama pacarnya lagi. Sebenarnya, saat itu aku sedang dekat dengan beberapa laki-laki, tetapi kembalinya Adhi ke dalam hidupku membuatku sadar masih menyukainya.

Kuucapkan maaf kepada para laki-laki yang aku tinggalkan hanya karena Adhi kembali. Saat itu, Adhi sudah diterima di salah satu sekolah MAN yang cukup terkenal di sini. Aku katakan padanya kenapa dia tidak mencoba masuk SMA saja? Tanpa kusangka, dia benar-benar mencobanya. Dia mencoba masuk ke SMA sesuai rekomendasi dariku? Padahal setahuku, dia masih memiliki trauma dalam mencoba sekolah negeri pasca penolakan yang dia alami ketika berusaha masuk ke SMP sebelumnya.

Waktu pengumuman pun tiba. Dia selalu merasa khawatir menantikan hasilnya dan aku selalu berusaha menenangkannya. Tidak mungkin semuanya sia-sia. Salah satu perjuangan yang saat itu membuatku merasa bahwa kita cukup dekat adalah di saat pendaftaran itu dimulai. Dia dua kali mendatangi SMA yang akan kami tuju untuk melakukan pendaftaran karena memang saat itu dibatasi. Aku kira dia akan menyerah di hari pertama karena dia juga sudah diterima di sekolah yang lain, tetapi tiba-tiba dia mengabariku akan mencobanya. Dia berada di posisi paling depan di tempat pendaftaran. Dia terlihat sangat lucu saat mengirim foto. Hingga akhirnya, kita berdua berhasil diterima di sekolah yang sama.

Saat itu kami berdua sangat senang. Aku kira itu adalah awal yang baik untuk hubungan kita ke depannya. Layaknya sepenggal lirik lagu Hivi—“ tiada masa-masa yang lebih indah, masa remaja, seakan dunia milik berdua”—aku harap kisah kita akan berakhir seperti itu, menikmati masa SMA dengan indahnya kisah kita berdua. Saat itu kita berdua bisa dibilang cukup dekat, tentu teman-temanku juga mengetahui ini karena memang salah satu dari mereka adalah temanku sejak SD dan kita kebetulan selalu satu kelas. Mereka selalu heboh sekali saat berpapasan dengannya. Jangan tanya keadaanku, tentu aku malu sekali.

Banyak sekali momen-momen baik tercipta antara aku dan dia. Suatu ketika, dia bertanya padaku bagaimana gambaran peta Indonesia untuk tugas sejarah. Saat itu dia mengatakan bahwa dia sudah mencoba menggambar Pulau Kalimantan, ternyata dia dimarahi oleh guru tersebut katanya gambarnya mirip bebek, hehe, lucu sekali. Kemudian dia mengirimkan foto kertas yang dimasukkan ke dalam tong sampah. Sepertinya dia lelah.

Ada juga satu momen di mana dia cukup marah karena aku tidak menyapa saat bertemu dengannya. Tentu saja itu karena aku malu sedang bersama teman-temanku. Selanjutnya, kami berdua memang sangat jarang menunjukkan interaksi karena malu dan tidak enak saja, tapi saat bertemu kita hanya saling melihat satu sama lain tanpa adanya kata sapaan apa pun.

Ada satu momen di mana aku memberanikan diri untuk menyapanya di kantin. Dia sedang antre membeli ayam geprek favorit kita semua. Awalnya aku ragu untuk menyapanya, tetapi entah mendapatkan keberanian dari mana, aku menepuk punggungnya pelan-pelan. Kemudian dia menoleh ke belakang dan terlihat kaget. Di sana aku tersenyum saja lalu pergi bersama teman-temanku. Tunggu ..., ini bisa disebut menyapa, kan? Setelah itu aku menoleh kepadanya lagi dan terlihat dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Aku merasa malu dan menyesali perbuatanku. Aaa, aku sangat malu.

Waktu berlalu cukup lama hingga ujian semester tiba. Aku masih dekat dengannya. Aku berpikir tidak ada salahnya jika aku menaruh harapan kepadanya lagi. Tidak akan salah juga jika aku berharap akan bisa membersamainya sebagai pasangan. Namun, semua itu hanya sementara.

Harapan dan keinginanku sirna dengan adanya pandemi Covid-19. Kami semua harus bersekolah secara daring dan tidak pernah kusangka itu adalah titik awal di mana kita berdua sama-sama menjauh tanpa alasan yang jelas. Berbagai kebiasaanku dengannya perlahan-lahan menghilang, seperti berbalas chat yang tak pernah ada lagi. Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya. Mungkin saja dia hanya sedang tidak ingin diganggu.

Dia sangat mendalami dunianya. Kebetulan dia sangat menyukai budaya Jepang, berbeda denganku yang menyukai idol-idol dari Korea Selatan. Mungkin ini menjadi salah satu alasan tidak adanya hal yang bisa kita bicarakan. Hal itu berlangsung selama beberapa bulan hingga akhirnya kami masuk sekolah dengan adanya pembagian sesi masuk, bahkan di saat hal ini terjadi, aku tidak berharap akan bertemu dengannya lagi. Aku merasa mungkin memang sudah cukup aku menyukainya dan berharap.

Tidak disangka niat itu seketika berhenti ketika bertemu dengannya lagi. Aku bertanya-tanya, kenapa setiap aku ingin berhenti selalu saja bertemu dengannya. Tentu saja aku tidak jadi melupakannya. Aku bertemu dengannya di parkiran sepeda motor, di koperasi, di kantin, dan banyak lagi pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja terjadi. Akhirnya, aku menyerah. Aku kembali jatuh hati kepadanya, meskipun saat itu aku berkata pada teman-temanku seperti ini, “Apa sih? Aku sudah move on kok. Udah ya jangan dibahas lagi.” Pada kenyataannya, aku masih menyukainya, sama besarnya seperti apa yang kurasakan sejak awal dan mungkin akan bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Hari demi hari di jalani, tibalah kita di ujung kisah masa putih abu-abu, wisuda. Jangan ditanya perasaanku padanya bagaimana, sudah cukup jelas masih akan sama seperti awal, meskipun tanpa komunikasi. Hari itu cerah dan kami menggunakan bus untuk menuju lokasi acara. Acara tersebut memiliki banyak sekali hiburan dan juga momen hari yang terjadi.

Tibalah saat pemanggilan nama siswa-siswi untuk melakukan prosesi wisuda satu per satu. Dia maju terlebih dahulu karena memang dia ada di kelas 2, sedangkan aku di kelas 4. Aku kira saat itu adalah saat terakhir aku akan bertemu dengannya. Dia maju dan terlihat cukup tampan dengan jas hitamnya.

Setelah itu, tibalah giliran kelasku. Aku tidak tahu jika dia memang mendapat tempat duduk di depan karena tempatnya diatur sesuai nomor urut sehingga harus berjalan melewatinya. Aku berusaha untuk tidak melihatnya, tetapi temanku malah berkata bahwa dia melihatku. Sungguh ini memalukan.

Masih di peristiwa yang sama, kali ini giliran setiap kelas akan melakukan sesi foto bersama dan juga individu. Semuanya berjalan lancar, kami semua bahagia sekali dengan hal ini hingga selesai sesi tersebut kami memutuskan untuk berfoto-foto dengan teman-teman. Saat itu aku meminta tolong kepada temanku untuk memfoto diriku dan tidak kusangka Adhi melewatiku sambil melihatku. Lagi-lagi temanku berkata bahwa Adhi melihatku terus. Temanku yang lain bertanya apakah aku mau ajak dia Adhi berfoto dan kujawab tidak usah. Momen ini cukup membuatku sedikit menyesal karena aku harusnya berfoto dan membuat kenangan dengannya.

Setelah itu hujan tiba-tiba datang, padahal tadi sangat cerah. Aku dan teman-temanku duduk-duduk di luar sambil melihat hujan dan temanku berkata, “Eh, ini si Adhi foto sama temen cewekku.”

Aku bersikap biasa saja, padahal dalam hatiku sedikit sedih. Tiba-tiba aku teringat kejadian yang lalu, ternyata terjadi kembali, ya? Saat itu, aku hanya menyadari bahwa aku mungkin tidak akan pernah bisa bersama, bahkan bersatu menjadi pasangan bersama Adhi. Apa yang aku kira tidak akan terjadi, ya? Maaf sudah mengira seperti itu. Sejak itu aku benar-benar memutuskan untuk mulai perlahan-lahan melupakannya karena aku yakin tidak akan bertemu kembali dengannya. Tidak ada lagi alasan untukku menyukainya kembali karena kita berdua bertemu tanpa disengaja.

Ternyata lagi-lagi aku salah. Nyatanya, aku bertemu kembali dengannya saat mengambil ijazah, padahal waktu itu semua sudah terjadwal dan hanya sedikit kemungkinan kita bisa bertemu. Saat itu yang ada di pikiranku adalah apa ini pertanda untuk tidak berusaha melupakannya lagi? Namun, kutepis semua pikiranku dan kukatakan bahwa aku menyerah atasmu. Aku sudahi menyukaimu, meskipun banyak sekali hal-hal baik tentang kami, hal-hal seru yang akan menjadi kenangan dengannya. Saat itu juga, aku sudahi semua kira yang aku tuliskan dan inginkan. Kali ini aku benar-benar menyerah atas dirimu dan aku berharap nantinya, baik aku maupun Adhi, jika ditakdirkan bersama pasti akan kembali lagi. Kalaupun tidak, kuharap Adhi menemukan pasangan yang baik untuknya. Selain itu, aku juga berharap dia mampu menggapai cita-citanya. Ini aku yang berharap menjadikan kami untuk bersama, tetapi kuakhiri sampai di sini. Terima kasih atas rasa yang pernah dia berikan.

Sebelum cerita ini berakhir, aku hanya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas apa yang Adhi lakukan sehingga masa putih abu-abu yang aku jalani tidak terlalu buruk dan memiliki kenangan yang cukup indah. Terima kasih atas segala kira yang aku harap nyata ternyata tidak akan pernah menjadi nyata. Untukmu yang aku rasa cukup dekat untuk bertemu kembali, tetapi mungkin Tuhan tahu kalau aku mungkin juga akan kembali menyukainya jika bertemu dengannya.

Hanya dipisahkan satu dusun, tetapi Tuhan kali ini tidak membiarkan pertemuan antara aku dan dirinya terjadi. Selain itu, aku juga meminta maaf kepada laki-laki yang sekiranya pernah aku sakiti hatinya karena saat itu aku belum bisa melupakan hadirnya Adhi dalam kehidupanku. Adhi, jika memang nantinya kita ditakdirkan bersama, aku harap aku sudah menjadi manusia yang lebih baik lagi begitu pun dirimu. Walaupun itu juga tidak terjadi nanti, tolong undang aku atau berikan pertanda kamu sudah memiliki perempuan yang kamu mau. Terima kasih Adhi atas kisahnya.

TAMAT


Tentang Penulis:

Hai, namaku Khovifah Nur Wahyu Agustin, lahir di Sidoarjo, 25 Agustus 2004. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan S1 di UPN Veteran Jawa Timur. Aku sangat menyukai menulis dan membaca. Karya ini ditulis berdasarkan inspirasi pengalaman yang aku lalui. Selamat menikmati, semoga kalian menyukai ceritaku. 

Bagikan:

0 Komentar