Malam sudah larut, lampu-lampu taman sudah dipadamkan. Tinggal beberapa penerang jalan yang bersinar redup dan malas. Seorang perempuan muda masih duduk di bangku yang berseberangan dengan meja kosong para pedagang kaki lima yang telah selesai menggelar dagangan. Ia mengisap sebatang rokok sembari bertopang dagu. Kakinya yang putih mulus disilangkan sehingga rok mini dua jengkal yang dikenakannya terangkat hampir ke pangkal paha. Sungguh suatu pemandangan indah yang membuat taman gelap itu jadi sedikit bernyawa.

Dua hingga tiga lelaki tampak mendekatinya—ah, tidak ... sebenarnya mungkin sudah puluhan jika dihitung dari awal malam tadi. Para lelaki itu mengajaknya pergi, tetapi selalu ditolak dengan halus disertai gelengan kepala sehingga para lelaki itu terpaksa berpindah tempat ke perempuan lain yang berjajar rapat hampir di setiap sudut taman. Perempuan-perempuan malam itu akan tetap mangkal hingga jauh malam, menunggu kedatangan para pelanggan untuk menangguk pundi-pundi rupiah.

"Tumben, Rin," sapa temannya yang mempunyai ukuran dada luar biasa besar. Rini, perempuan yang duduk itu, mendongak. Dia tersenyum lalu membuang puntung rokoknya.

"Sedang tidak enak badan," jawabnya sambil melirik perempuan berdada besar yang kini duduk di sampingnya. "Kamu sendiri? Apa menunggu kekasihmu?"

"Yup, dia booking untuk lima hari, Rin."

"Wuihhh, berapa tarifnya? Semalam bisa berapa ronde? Kekuatan dia bikin gempa di ranjang dapat nilai berapa?"

Perempuan yang ditanya malah tertawa. "Biasalah untuk kirim ke kampung. Tahu sendiri kan suamiku nganggur."

"Lho, doyan tah suamimu makan duit tubuh istrinya? Hahaha. Gila sih itu."

"Huss! Mulutmu itu sadis!" gerutu perempuan berdada besar itu sambil menyalakan sebatang rokok.

"Lha ya toh? Istrinya dibiarin jual diri tiap malam, terus dia enak-enakan makan duitnya. Kok ketelan, ya? Dasar anjing!"

Perempuan berdada besar itu makin merengut. Perlahan ia mencubit paha Rini hingga perempuan cantik itu berteriak-teriak kesakitan minta dilepaskan. Pada saat bersamaan, sebuah mobil putih berhenti. Perempuan berdada besar itu mendadak berbinar-binar sambil berdiri. "Jemputan aku datang, nih. Aku duluan, ya."

"Yuhuuu! Pergi sana, jangan sampai letoy kau, ya, hahaha," balas Rini sambil terbahak.

Perempuan berdada besar itu mencibir lalu segera balik badan dan pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia berbalik kembali.

"Rin, kamu beneran kagak enak badan? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Ini kamu di sini tinggal sendiri, loh."

"Kagak apa-apa. Sudah pergi, sana! Aku mau jalan pulang," balasnya sambil melambaikan tangan.

"Butuh tumpangan, Rin?"

"Tidak, tidak ... pergi saja sudah!"

Klakson mobil berbunyi beberapa kali memberi kode kepada wanita berdada besar itu untuk bergegas. Ia pun meninggalkan Rini seorang diri, menjadi penghias malam yang makin sepi.

Tiiin! Tiiin!

Bunyi klakson mobil mengagetkan Rini. Ia mendongak. Penglihatannya mengarah ke sebuah mobil sedan mewah yang berhenti tak jauh darinya. Namun, seleranya sedang tidak ada hingga dia memutuskan untuk diam saja dalam duduknya. Klakson mobil berbunyi lagi beberapa kali. Ia tetap enggan beranjak.

Akhirnya, seseorang turun dari mobil itu. Perawakannya rapi, tetapi sepertinya ia bukan pemilik mobil itu, barangkali supir.

"Anu, Non, maaf ...." Wajahnya tersipu malu dan memerah melihat pakaian Rini yang begitu minim.

"Kenapa?"

"Em, majikan saya ingin Anda naik ke mobilnya. Berapa pun tarifnya, beliau akan bayar."

Rini tersenyum kecil sambil berujar, "Aku sedang tidak ingin bercinta dengan lelaki manapun, termasuk majikanmu."

"Tapi, anu ... itu, Non, majikan saya perempuan."

"Perempuan?"

"Iya, Non. Saya tidak bohong."

Rini berdiri. Tubuhnya yang semampai terlihat lebih menjulang dari si supir yang berbadan kecil itu. Tubuh Rini sempurna. Porsinya benar-benar pas. Putih, tinggi, montok, serasi dengan wajahnya yang oriental. Ketika Rini berjalan, seolah-olah angin berdesir mengikuti gerak-geriknya.

Pintu belakang terbuka. Rini melongok untuk melihat ke dalam, membayangkan seorang perempuan bertubuh gendut, berbibir tebal dengan rambut bergelombang berwarna pirang.

"Owwhh!" Rini tersentak hingga terbelalak. Ia tidak percaya dengan penglihatannya.

Di sana, di bangku belakang itu, duduk seorang perempuan muda yang sangat cantik. Rambutnya curly dilengkapi dengan helaian poni yang manis. Bibirnya tipis, merah muda dengan senyum yang begitu menawan. Lesung pipit di kedua pipinya begitu tajam. Gaun hitamnya yang sehalus sutra terlihat lembut dan pas pada kulitnya yang berkilau bagaikan porselen.

"Bagaimana mungkin perempuan ini memanggil pelacur? Untuk apa?" Benak Rini bertanya-tanya.

"Masuklah, berapa pun bayaran yang kauminta akan kubayar," ujar perempuan muda itu.

"Untuk siapa?" tanya Rini.

Perempuan cantik itu tersipu, tampak begitu anggun dan lembut.

"Saya yang mau," jawabnya pelan.

Rini tersenyum. Tak perlu disuruh dua kali, ia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping gadis itu. Dadanya mendadak berdebar-debar. Ini kali pertama ia di-booking oleh seorang perempuan.

TAMAT


Catatan:
"Perempuan di Dada Malam" karya Emma Engkani adalah salah satu cerpen terbaik hasil penilaian antarpeserta dalam kegiatan Tiga Pilar Kata persembahan Komunitas Saung Karsa edisi 9 - 15 Juli 2023.


Tentang Penulis:
Emma Engkani, nama pena dari perempuan berdarah Bugis yang sering dipanggil Noni. Penyuka puisi dan cerita pendek, aktif berkecimpung dalam berbagai grup literasi Facebook. Pernah terlibat dalam beberapa antologi puisi dan cerpen. Saat ini beralamat di Kota Soppeng, Sulawesi Selatan.

Komentar

Hai, warga Saung Karsa! Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini. Silakan tinggalkan komentar dalam bentuk apa pun sambil tetap menjaga etika sesuai norma umum yang berlaku.