Bunga-Bunga Berguguran di Mataram

Bunga-Bunga Berguguran di Mataram karya Daniel Agus Maryanto

Perang, kekuasaan, kekayaan
Seperti unggun api dalam kegelapan
Dan orang bertebaran untuk mati tumpas di dalamnya.
Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer

Mataram (Plered), 1668-1670

Tergetar hebat Sunan Amangkurat memandang gadis belia ketuturunan Jawa-Tionghoa, putri Ngabehi Mangunjaya (Ma Oen), yang belum genap berusia 13 tahun itu. Dari atas singgasananya yang megah, Sunan Amangkurat seakan tak berkedip memandang kejelitaan gadis belia yang atas perintahnya diizinkan untuk memandang wajah sang raja. Sudah tak terhitung jumlah selir yang dimilikinya. Namun, memandang dari ujung kepala sampai ke ujung kaki gadis yang masih bau kencur itu justru menumbuhkan getar yang aneh dan sensasi tersendiri baginya.

“Wirareja, jagalah anak perempuan ini di rumahmu. Ajari adat dan sopan santun istana, terlebih rawatlah kecantikannya. Kelak jika sudah tiba saatnya aku kehendaki, bawalah Rara Hoyi ke kedaton untuk menjadi selir kesayanganku,” perintah Sunan Amangkurat dengan perasaan puas dan segera menganugerahi Wirareja dengan banyak hadiah karena dipandang telah berhasil menjalankan perintah raja.

Keberadaan Rara Hoyi di Istana Mataram Plered sendiri tak lepas dari peristiwa yang terjadi beberapa bulan sebelumnya, ketika Sunan Amangkurat berduka karena selir yang amat dicintainya, Ratu Malang, meninggal dunia.

Ratu Malang sendiri dijadikan selir kesayangan Sunan Amangkurat dengan cara-cara yang tidak terpuji dan hanya mengagungkan kekuasaannya yang tak terlawankan. Saat istana mementaskan pagelaran wayang untuk menghibur para kawula, maka diundanglah seorang dalang kondang Mataram, Ki Dalang Panjang Mas. Dalam pegelaran wayang itu, Ratu Malang ikut menyertai suaminya. Pada saat itulah Sunan Amangkurat begitu terpesona dengan istri Ki Dalang Panjang Mas. Begitu terpikatnya sang Raja Mataram sehingga saat itu juga dia meminta Ki Dalang Panjang Mas untuk menyerahkan istrinya. Permintaan itu tentu ditolak dengan halus oleh dalang kondang Mataram, meskipun sang Penguasa Mataram itu menjanjikan banyak hadiah dan jabatan sebagai pengganti istrinya.

“Panjang Mas, aku menghendaki istrimu untuk tetap tinggal di istana ini. Sebagai imbalan, mintalah jabatan apa saja dan emas berlian melimpah di istana ini. Mintalah dan akan kukabulkan permintaanmu,” kata Sunan Amangkurat tanpa teding aling-aling dan yakin tak akan ada yang berani menentangnya.

“Beribu ampun, Kanjeng Sunan. Hamba sudah berjanji kepada almarhum orang tua Ratu Malang untuk selalu menjaganya seumur hidup hamba. Saat ini Ratu Malang sedang mengandung buah cinta kami berdua, Kanjeng,” jawab Ki Dalang Panjang Mas dengan tak hentinya bersembah.

Mendengar jawaban Ki Dalang Panjang Mas, wajah penguasa Mataram bagai dijilat api. Sungguh dia tak menduga ada orang yang berani menentang kehendaknya.

Sesaat dipandanginya sosok Ki Dalang Panjang Mas yang bersimpuh dengan wajahnya menyentuh lantai. Sementara di balik punggung suaminya, Ratu Malang tampak menggigil ketakutan seperti sekor tikus yang bersembunyi di balik meja menghindari sergapan kucing garong. Namun, melihat wajah Ratu Mas yang pucat pasi dalam impitan ketakutan itu justru mengobarkan nafsu birahi sang Penguasa Mataram.

“Baik, Ki Dalang Panjang Mas. Kau telah menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan. Cepatlah pergi dari hadapanku sebelum keputusanku berubah!” perintah Sunan Amangkurat menahan gelora perasaan yang berkobar di dada.

Sesaat setelah Ki Dalang Panjang Mas dan istrinya meninggalkan istana Plered, Sunan Amangkurat segera memanggil dua orang hulubalang kepercayaannya.

“Nayatruna dan kau, Yudakarti, bawa pasukan yang kuat. Ki Dalang Panjang Mas bukan orang sembarangan. Penggal kepalanya dan bawa Ratu Malang ke istana. Cepat, susul mereka!” perintah sang Penguasa Mataram bagai kilat membelah langit malam.

***

Di tengah malam yang beku, kuda-kuda dipacu. Nayatruna dan Yudakarti memimpin 25 orang pilihan dari kesatuan prajurit pengawal raja. Mereka terus memburu dengan wajah membatu. Tepat di kaki Gunung Kelir, akhirnya para prajurit pemburu berhasil menyusul rombongan Ki Dalang Panjang Mas. Tanpa kata, tanpa suara, Nayatruna dan Yudakarti segera mengisyaratkan pasukannya untuk membabat habis rombongan Ki Dalang Panjang Mas. Sementara itu, Nayatruna dan Yudakarti langsung menerjang ke arah Ki Dalang Panjang Mas.

Pertempuran tak seimbang segera terjadi. Rombongan Ki Dalang Panjang Mas yang tidak semuanya berbekal ilmu kanuragan yang memadai telah berhasil ditumpas habis, sedangkan Ki Dalang Panjang Mas, meskipun berbekal ilmu kanuragan tinggi, telah tewas mengenaskan. Bergegas Nayatruna dan Yudakarti kembali ke istana raja dengan membawa tubuh Ratu Malang yang tergeletak tak sadarkan diri.

Pagi harinya, warga desa di sekitar Gunung Kelir dibuat geger dengan penemuan mayat Ki Dalang Panjang Mas dan beberapa orang pengikutnya itu. Namun, tak ada yang berani mempertanyakan ataupun berusaha mencari tahu sebab-sebab terjadinya pembunuhan itu. Semua warga desa—bukan hanya di sekitar Gunung Kelir, melainkan juga di seluruh wilayah Mataram—sudah mengetahuinya. Hanya pemilik kekuasaan yang sangat besar di Mataram yang sanggup melakukan kekejian itu.

Warga desa dengan penuh rasa hormat segera menguburkan jenazah Ki Dalang Panjang Mas dan para pengikutnya itu di Gunung Kelir. Dalam hati kecil para warga hanya bisa menyesali bahwasanya sang dalang dieksekusi mati pastilah sebab dia berani menentang kekuasaan sang Penguasa Mataram. Jangankan seorang dalang, panglima perang Mataram, Tumenggung Wiroguna yang berani menentang keinginan raja yang menginginkan istrinya juga dieksekusi mati.

Sementara itu, Ratu Malang ditempatkan di Istana Plered sebelah timur karena di istana barat sudah ditempati Permaisuri Ratu Kulon. Berbagai macam hadiah segera dikirimkan ke istana timur untuk Ratu Wetan—Kanjeng Ratu Malang—agar bisa segera melupakan suaminya. Namun, Ratu Malang ternyata seorang istri yang teramat setia hingga rasa cintanya tidak bisa dibeli. Kehilangan suami yang amat dicintai dengan cara dibantai di depan matanya telah menjadi trauma yang menggerogoti jiwa. Keinginan hidup Ratu Malang pun padam sehingga pada tahun 1665, Ratu Malang meninggal menyusul Ki Dalang Panjang Mas yang dicinta.

Kematian Ratu Malang ternyata berbuntut panjang. Raja Amangkurat menjadi amat murka. Penguasa Mataram itu menuduh 43 dayang-dayang dan selir raja di Kraton Wetan telah bersengkokol meracuni Ratu Malang. Akibatnya sungguh tak terperikan bagi ke 43 dayang-dayang dan selir raja itu. Semua dieksekusi mati dengan cara dikurung dalam kamar dan tidak diberi makan apa pun sampai mati.

Mataram berduka berkubang air mata. Para kawula tak tahu lagi mengadu kepada siapa dalam empasan duka nestapa. Siapa yang berani menentang dan merobohkan tembok kekuasaan sang raja? Sunan Amangkurat adalah “tembok kekuasaan” dan bukan sekadar di balik “meja kekuasaan” yang sekali tendang hancur. Pangeran Alit dengan dukungan lebih dari lima ribu ulama salah dalam memandang dan menilai kekuatan kekuasaan Sunan Amangkurat yang dianggapnya tak lebih dari sebuah meja yang sekali pukul bakal hancur.

Kesalahan memandang kekuasaan sang Penguasa Mataram, akhirnya harus ditebus sangat mahal oleh Pangeran Alit dan tak kurang dari lima rabu kaum ulama meregang nyawa dalam waktu tak lebih dari satu jam di alun-alun Plered. Mataram pun banjir darah para ulama tak berdosa dan menjadi sejarah hitam di sepanjang sejarah Mataram.

***

Sang Waktu terus berputar. Tanpa terasa, Rara Hoyi yang dititipkan Ngabehi Wirareja sudah beranjak remaja dengan kecantikan yang tiada cela. Suatu ketika Raden Mas Rahmat atau dikenal dengan nama Adipati Anom, putra mahkota Mataram, bertandang ke Wirareja. Adipati Anom yang melihat Rara Hoyi saat sedang membatik langsung terpikat hatinya. Jantungnya berdegup kencang. Saat itu pula dia jatuh cinta dalam pandangan pertama. Kepada Wirareja, dia menanyakan siapa jati diri wanita yang telah mengguncangkan hatinya itu.

“Gusti Anom, gadis itu bernama Rara Hoyi. Dia adalah simpanan ayahanda sendiri, dititipkan di Wirareja ini menunggu sampai saatnya tiba diperintahkan Kanjeng Sunan untuk diantarkan ke kedaton,” jawab Wirareja dengan penuh rasa khawatir.

Betapa terkejutnya Adipati Anom mendengar jawaban Ngabehi Wirareja. Tak ada harapan sama sekali untuk bisa mendapatkan cinta Rara Hoyi yang telah begitu menawan hatinya. Namun, sang Putra Mahkota tak bisa melupakan cinta pada pandangan pertamanya begitu saja. Tak dapat menahan gundah hatinya, sang Putra Mahkota pulang dengan memacu kudanya sangat kencang. Sesampainya di rumah kepangeranan, dia langsung tidur berselimut dengan tubuh menggigil menahan rasa marah sekaligus ketakutan.

Para abdi kepangeranan mengira Adipati Anom sedang sakit keras. Pangeran Pekik, sang Kakek, rupanya sangat bijaksana dan segera mengetahui bahwasanya cucunya sedang dilanda asmara. Tak ingin melihat penderitaan cucu terkasihnya, suatu ketika Pangeran Pekik bersama istrinya, Nyi Pandan, mengunjungi rumah Wirareja dengan maksud meminang Rara Hoyi. Namun, dengan penuh ketakutan Wirareja menolak pinangan itu karena membayangkan betapa berat hukuman yang akan diterimanya bila ia sampai tidak bisa menjaga amanat sang raja dalam menjaga Rara Hoyi.

Pangeran Pekik dan istrinya yang begitu sayang kepada cucunya terus berusaha mendesak Ngabehi Wirareja dan beralasan Putra Mahkota bisa mati bila tidak mendapatkan Rara Hoyi. Wirareja pun terjebak dalam dilema, antara takut hukuman yang akan diterima dan memikirkan pula sang Putra Mahkota yang tampak sekali sangat tergila-gila kepada Rara Hoyi.

Akhirnya, setelah Pangeran Pekik menyatakan akan bertanggung jawab terhadap kemarahan Raja Mataram, dan juga melihat hadiah sepasang cincin berharga mahal dan sepasang keris—Nyi Pandan pun memberikan emas dan pakaian bagus-bagus untuk istrinya—Wirareja menyerahkan Rara Hoyi untuk dibawa pulang ke Surabaya dan dikawinkan dengan Adipati Anom.

Tibalah waktu Sunan Amangkurat datang ke Wirareja untuk mengambil Rara Hoyi. Betapa kagetnya Raja Mataram itu saat tahu calon selir kesayangannya telah diambil Pangeran Pekik dan dinikahkan dengan Adipati Anom. Walaupun Adipati Anom adalah putranya sendiri, hal tersebut tidak meyurutkan kemarahannya. Akibatnya sungguh tak terperikan. Ngabehi Wirareja dibuang ke Ponorogo bersama anak dan istrinya. Namun, mereka semua pada akhirnya dieksekusi mati di tengah perjalanan.

Kemarahan Amangkurat belum mereda. Dia pun mendatangi Pangeran Pekik di Surabaya. Seluruh keluarganya berjumlah empat puluh orang tanpa belas kasih diperintahkannya pula untuk dihabisi. Tidak berhenti di situ, murka sang Raja Mataram belum selesai. Sang Putra Mahkota dan Rara Hoyi diseret ke hadapan raja. Hilang sudah cinta sang Raja Mataram kepada Rara Hoyi yang telah dinodai putranya sendiri.

Keris telanjang diserahkan kepada Putra Mahkota. Di hadapan sang Raja Mataram, dia harus berani memilih antara tetap menjadi Putra Mahkota atau Rara Hoyi. Memilih tahta artinya harus rela kehilangan cinta dan nyawa Rara Hoyi, sedangkan memilih Rara Hoyi berarti harus terusir dari bumi Mataram selamanya.

Menggigil keris di tangan sang Putra Mahkota. Dia tak sanggup memandang wajah Rara Hoyi. Sesaat ketegangan melanda. Rara Hoyi melihat bayangan kutukan di atap langit istana atas masa depan dirinya dan masa depan Mataram. Tak ingin tangan kekasihnya ternoda, dengan berani disongsongnya keris di tangan sang Putra Mahkota. Hanya terdengar jeritan lirih, sebelum segalanya berubah menjadi sunyi. Rara Hoyi telah mati. Namanya menambah panjang deretan bunga-bunga yang berguguran di Mataram.

TAMAT

Catatan:
"Bunga-Bunga Berguguran di Mataram" karya Daniel Agus Maryanto adalah salah satu cerpen terbaik hasil penilaian antarpeserta dalam kegiatan Tiga Pilar Kata persembahan Komunitas Saung Karsa edisi 9 - 15 Juli 2023.

Bagikan:

2 komentar

  1. Selamat dan sukses buat bopo Daniel.Semoga tetap kreatif dalam menghasilkan karya karya selanjutnya

    BalasHapus