ADIRATNA Karya Raydinda Shofa - Finalis Kontes Puisi dalam Cerita (2024)


“Lagi mikirin apa?” Laki-laki jangkung bersuara lembut itu mendekat. Sedikit debu yang menempel di lantai ditiupnya pelan sebelum turut duduk di sana—beranda. Dirinya kini menghadap pada taman bunga. Beberapa kuncup bunga asoka dengan berbagai warna mulai bermekaran. Sementara bugenvil putih yang baru pertama kali berbunga sejak ditanam setahun lalu, mulai berguguran.

Perempuan di sampingnya menoleh. Seutas senyum tersungging di antara garis rahang tegasnya yang ayu. Sejurus kemudian, dia kembali menatap taman tanpa sempat bicara barang sekata. Walau begitu, sang pria tak kunjung menagih jawaban atas pertanyaannya. Sepasang mata beriris hitam itu tenggelam sejenak dalam netra jernih milik sang puan, lantas turut menatap taman. Dia ikut menelusur, meresapi, menyoroti sesuatu. Sebuah kotak yang tampaknya kerap disebut … kenangan.

Koridor kenangan yang ditelusurinya begitu panjang. Dengan tertatih dan merintih perempuan itu merangkak melaluinya. Kenangan pahit miliknya bukan sesuatu yang remeh, apalagi untuk disabung dengan tangis manusia lain di panggung sandiwara ini. Adiratna, perempuan itu punya ceritanya sendiri. Jatuh, cemas, tangis, tawa, amarah—segala emosi agaknya pernah dia luapkan pada takdir, kepada Tuhan.

Suatu kali ketika impiannya gagal, Adiratna termenung. Tatapannya terpaku pada monitor laptop. Tabel-tabel itu menunjukkan bahwa namanya telah terlempar dari kuota peserta didik SMA idamannya. Nilainya tak membawanya terjun bebas. Namun, perkara sistem zonasi dan kebijakan merugikan lain, seperti kepemilikan KIP[1] dan SKTM[2] yang tak tepat sasaran adalah biangnya[3].

SNMPTN[4], merah—gagal.

SBMPTN[5], merah—gagal.

Ujian mandiri di beberapa kampus, nihil.

“Apa jatah lukaku belum habis? Masih berapa banyak lagi? Harus jatuh berapa kali lagi?” Wajahnya datar. Namun, giginya beradu. Tangannya menggenggam kuat, menolak kehendak rasa untuk meneteskan air mata.

“Kukira apa yang kualami adalah sesuatu yang harus kubayar untuk hal-hal indah di masa depan, padahal aku sudah susah payah untuk berusaha ikhlas. Bahkan jika kelak tak ada laki-laki yang mau menerimaku, jika tak ada orang tua yang rela memberikan anak laki-lakinya untuk mendampingiku yang penyakitan ini, barangkali mereka tak mau kerepotan, tak mau punya risiko anak dan cucu yang ikut penyakitan seperti aku, apa pun itu tak masalah! Kenapa masih begini? Kenapa masih saja usahaku selalu Engkau gagalkan, Tuhan?” Pipinya kebas. “Kalau cobaan memang Engkau berikan pada yang mampu melewatinya, maka kini kukatakan, aku sudah tidak mampu.”

Adiratna yang tengah berada di fase akhir remajanya itu menyadari bahwa usahanya untuk menerima tak bisa seketika menjadi tiket surga. Hidup yang selama ini telah dia jalani dengan sekuat diri menata hati, seakan-akan belum memberinya umpan balik. Usianya belum matang untuk memikirkan pendamping hidup, tetapi skenario pengganti harus sudah disiapkannya. Menurut dara bergigi gingsul itu, setidaknya dia sudah punya rencana untuk mengisi hari di saat teman-temannya sibuk menggelar pesta pernikahan. Adiratna mengantisipasi, barangkali kisah cinta Adam dan Hawa yang semanis gulali tak berkenan hadir di kehidupannya nanti.

Belasan tahun lalu, penyakit itu resmi datang dalam kehidupannya. Pusing, lemas, tak kuasa berjalan, ruam yang muncul kembali setelah disengat sang surya. Belum lagi kemoterapi berikut dampaknya menjadi sebagian dari sekian konsekuensi nyata yang harus dihadapi Adiratna sebagai penyandang lupus eritematosus sistemik[6]. Penyakit seribu wajah[7] itu menyambangi hari-harinya sejak belia, di usia yang sewajarnya tak didominasi perasaan selain bahagia.

“Lupus membuat penderitanya bisa merasakan gejala yang berbeda-beda. Organ yang diserang pun belum tentu sama dengan gejala awalnya. Dalam kasus Dek Adiratna, lupusnya menyerang tulang. Efeknya, Dek Adiratna menjadi sulit atau mungkin tidak bisa berjalan selama beberapa waktu saat lupusnya sedang kambuh. Organ lain, seperti ginjal, darah, jantung, paru-paru, bahkan otak juga bisa menerima dampaknya di kondisi ini,” jelas dokter yang bertanggung jawab atas pengobatan Adiratna, pada malam hari usai gadis kecil itu menjalani serangkaian tes darah.

“Apakah bisa sembuh?” tanya seorang sanak saudara kala menjenguk Adiratna.

Terdengar menyakitkan memang. Namun, nyatanya itu pula yang menjadi tanda tanya di kepala sang Ibu, sesaat usai dokter memberikan vonis atas penyakit yang diderita Adiratna beserta penjelasannya. Tak ada satu pun kesengsaraan yang ingin dipelihara, bukan?

“Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan secara total, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Terapi dan pemeriksaan secara rutin perlu dilakukan, Bu. Terapinya dari obat oral atau diminum. Nanti juga ada yang perlu dimasukkan lewat infus, Bu. Jadi, sesekali nanti Ibu atau Bapak temani Adek mondok, ya,” urai dokter kala itu sembari meloloskan senyumnya untuk berusaha menenangkan. “Ibu juga bisa percayakan ke kami karena kami sudah terbiasa menangani kasus lupus. Pasien kami banyak, jadi kami akan mengusahakan yang terbaik supaya kondisi Adek bisa terus stabil. Tentu, Adek juga harus dijaga kesehatannya, Bu. Pola makannya perlu lebih diperhatikan. Makanan yang dikonsumsi harus bergizi seimbang dan jangan main panas-panasan. Kalau memang harus keluar waktu panas, Adek pakai sunblock atau tabir surya itu ya, Bu. Jangan sampai stres juga karena namanya fisik atau jasmani ini dan jiwa itu berkaitan. Kalau fisik terganggu, jiwa juga bisa merasakan. Begitu juga sebaliknya.”

Ah, menyakitkan. Gadis kecil itu seakan-akan terpenjara. Anak-anak yang terbiasa berteman dalam gerombolan, keluar rumah dari pagi hingga petang, melewatkan berbagai cuaca bersama—hujan dan panas. Sementara Adiratna …, dia mendapat pantangan atas hal paling normal dalam dunianya kala itu.

“Ratnaaa! Main, yuk!” seru anak-anak di beranda.

Tali panjang yang terbentuk dari kaitan karet gelang sudah berada di tangan salah satu dari mereka. Sementara sisanya ada yang membawa boneka, alat masak mainan, dan ada pula yang membawa bola sepak. Fleksibel sekali. Mungkin mereka nantinya akan berganti jenis permainan atau bertukar mainan begitu merasa bosan.

Wanita berusia tiga puluh tahunan segera membuka pintu, lantas berkata, “Wah! Makasih udah ngajakin Ratna main, tapi maaf Ratna belum bisa ikut. Ratna-nya masih bobok, masih capek habis dari rumah sakit,” terangnya lembut.

Anak-anak itu dengan manisnya turut iba dan memahami situasi dengan cepat. Mereka sangat peduli, memberi beragam ucapan doa yang muaranya sama, mengharap kesembuhan Adiratna.

Namun, semua tak berjalan semulus itu selamanya.

“Anak manja! Anak manjaaa!”

“Manja banget ga boleh panas-panasan, hahahaha!”

Dunia tahu itu. Tentu tak sebanyak Adiratna sebab hatinya pasti tergerus di setiap langkahnya yang berlari pulang. Ejekan itu menjadi iringannya. Air mata mengalir di pipinya yang memerah tersengat matahari. Pipi yang tembam karena efek samping obat. Lutut yang akhirnya tak kuat menyangga setelah berlari. Lari yang juga tak berkecepatan tinggi sebab dia tak mampu. Adiratna yang dalam kondisi seperti itu menjadi makin marah pada rambutnya yang rontok akibat kemoterapi.

Wanita itu memeluknya dengan erat. Dunia pun paham bahwa dia tak bisa berkata banyak. Dia takut tak kuasa menahan tangis. Sejak Adiratna masih dalam kandungan, aku tahu bagaimana wanita ini begitu mengharapkan kesehatan anaknya. Sama sekali dia tak menginginkan semua ini. Meskipun begitu, dia jelas tahu bahwa tak ada hak baginya untuk menyalahkan takdir, apalagi mengutuk Tuhan.

“Adiratna sayang, anak perempuan Ibu yang cantik.” Wanita itu mulai bicara seraya mengelus kepala putrinya. Telapak tangannya yang hangat lembut membelai. Dengan tatapan teduhnya, dia melanjutkan, “Percaya sama Ibu, Ratna pasti kuat. Ratna pasti bisa jadi orang hebat.”

Setelahnya, raungan Adiratna makin keras. Tubuh mungilnya jatuh dalam rengkuhan sang Ibu. Sementara wanita yang melahirkannya itu tak berhenti mengusap punggung Adiratna. Dia meluruhkan air matanya dalam diam, masih berusaha kuat demi sang putri.

Dari balik pintu yang tak tertutup sempurna, di bawah lampu yang berhias jelaga, disaksikan seluruh dinding yang telah berganti cat hingga tiga kali, wanita itu mencuri pandang. Sosoknya masih sama. Harapan, doa, serta usaha tak pernah berhenti dia kerahkan. Selain Adiratna sendiri, jelas wanita itulah yang paling mengharapkan hal yang terbaik untuk Adiratna. Seseorang yang akan memberi senyum dan tatapan paling hangat kala melihat putri tunggalnya duduk berdampingan dengan seseorang yang mampu membahagiakan putrinya.

“Aku tetap ingin punya taman rindang dengan pohon angsana itu walau aku enggak perlu menghindar dari matahari,” ucap Adiratna setelah cukup lama memandang taman, tanpa sepatah kata.

“Aku tahu,” jawab laki-laki di sampingnya.

“Makasih.”

Laki-laki itu menoleh.

“Terima kasih karena sudah menerimaku. Terima kasih sudah memperjuangkan aku, meyakinkanku, walau aku terus berlari menjauh. Terima kasih karena sudah ikut berlari untuk menggenggam tanganku,” sambung Adiratna, membuat senyum laki-laki itu mengembang.

“Aku terima ucapan manis itu dengan sepenuh hati.” Senyumnya menjadi makin legit. “Aku pun berterima kasih karena wanita hebat sepertimu sudah berani dan mampu bertahan hingga akhirnya kamu menemukanku. Aku juga sangat berterima kasih pada Ibu, sudah memberikan kepercayaannya padaku untuk mendampingi putrinya yang menakjubkan ini,” tuturnya.

Seraya menoleh dan menatap dalam sepasang mata yang menunduk itu, dia berkata, “Aku mencintaimu, Ara-ku.”

Adiratna tertawa pelan.

“Kenapa kamu memanggilku Ara?” tanyanya seraya membalas tatapan penuh cinta itu.

“Karena itu panggilan sayang.”

“Kenapa harus beda?”

“Karena aku ingin menyayangimu dengan spesial. Sayang dengan tingkat dan level yang berbeda.”

“Kenapa?”

“Karena aku bersyukur bisa bersamamu, Ara.”

Adiratna melepaskan kontak matanya. Dia kembali melepaskan pandang ke tengah taman.

Di kotak itu aku berteriak dalam senyap

Ibu menyerahkan darah dan jiwa,

tapi sesekali bahkan itu tak mengusir nestapa.

Di dalamnya aku merangkak

Kugadaikan segala yang mungkin baik-baik saja jika tak kumiliki

Kutawarkan harga yang kukira selaras

Aku penipu,

dan aku korbannya.

Tuhan tidak butuh impian yang kugadaikan

Dia tak menggubris somasi yang aku jeritkan

dan terus membuatku melangkah,

pada sebuah arus dengan hilir bernama kejujuran

karena Tuhan lebih tahu, bahwa aku mampu.

 

Seraya menahan tangis, Adiratna menjawab, “Aku juga bersyukur. Aku amat bersyukur, Tuhan tidak murka atas rutukanku. Aku sungguh bersyukur, Tuhan membantuku bertahan dan mempertemukanku dengan laki-laki seindah dirimu, Mas Angga.”

 

TAMAT



[1] (singkatan) Kartu Indonesia Pintar

[2] (singkatan) Surat Keterangan Tidak Mampu

[3]Mulai sekitar tahun 2017, calon peserta didik yang memiliki KIP dan SKTM ditempatkan di peringkat pertama meskipun nilai mereka berada jauh di bawah calon peserta didik lainnya yang tidak memiliki KIP dan SKTM

[4] (singkatan) Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri

[5] (singkatan) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri

[6] Secara internasional disebut SLE (Systemic Lupus Erythematosus). SLE merupakan salah satu penyakit autoimun di mana sel kekebalan tubuh menyerang sel atau jaringan tubuh yang sehat karena salah mengenalinya sebagai benda asing. Di Indonesia, rata-rata lebih dari 150 ribu kasus lupus terjadi setiap tahun. Penyintasnya biasa disebut Odapus (Orang dengan Lupus).

[7] Disebut penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat mirip dengan gejala penyakit lain sehingga sulit dideteksi.


Tentang Penulis:
Raydinda Shofa, dara asal Jawa Tengah yang jatuh cinta dengan dunia menulis sejak bangku Sekolah Dasar dan baru menekuninya secara serius saat SMP. Beberapa karya yang telah dilahirkannya, antara lain novel My Sunshine (Guepedia, 2019), novel My Lucid Fortune Cookie (Penerbit Semesta, 2023), antologi cerpen solo Miniatour (CV Laditri Karya, 2023), dan puluhan antologi bersama. Ray masih terus belajar dan sangat terbuka jika mau berteman di Instagram @catatan_blueray dan @ralisha_rayfa

Bagikan:

0 Komentar