Tragedi Mati Suri – Cerpen Karya El Dziken

Tragedi Mati Suri

Lantunan ayat-ayat suci Alquran terdengar dari ruangan depan, malam ini malam pertama tahlilan untuk Mbah Suro. Kakekku yang hampir berumur 90 tahun.

Mbah Suro meninggal tanpa sebab. Tadi pagi, sudah menjadi kebiasaan Mbah, selalu bangun pagi dan melaksanakan shalat Subuh di surau terdekat. Walau dengan jalan tertatih, Mbahku selalu melaksanakan kewajiban shalat jamaah di surau.

Namun, pagi ini tidak, karena Mbah Giarti, istri barunya, telah menemukan Mbah Suro sudah tidak bernapas lagi. Segera dirinya, memanggil perawat dari rumah sakit.

Lalu, Mbah Suro dinyatakan, sudah meninggal dunia. Tanpa menunggu lama, setelah Ba’da Dhuhur, dilakukan pemakaman Mbah Suro.

Namaku Maira, aku cucu pertama dari Mbah Suro. Mamaku, anak satu-satunya dari istri pertama Mbah Suro.

Sejak Mbah Putri meninggal, Mbah Suro menikah lagi dengan Mbah Giarti yang umurnya bertaut sangat jauh. Bahkan Mbah Giarti hampir seumuran dengan ibu.

Namun, wajah Mbah Giarti tampak masih muda terus, di saat umurnya mendekati setengah abad, justru terlihat cantik bagai wanita yang masih berumur 30-an.

Banyak orang bilang Mbah Giarti memakai susuk kinasihan. Buktinya mau saja dinikahi Mbah Suro yang sudah tua, Mbahku, merupakan orang kaya nomor satu di kampung ini.

Mama tak pernah iri hati, karena keluarga kami pun, sudah lebih dari cukup. Berhektar-hektar tanah Mama miliki.

Sudah jelas, setelah Mbah Suro meninggal, harta warisan yang sangat berlimpah itu, menjadi incaran Mbah Giarti. Karena sebenarnya Mbah Suro sudah menuliskan surat wasiatnya untuk siapa ahli warisnya.

Semua menjadi rahasia.

Tapi, kini setelah Mbah tiada. Semuanya akan terkuak.

Malam ini, semakin mengerikan tatkala di tengah acara pengajian, Mbah Suro datang! Mbahku bangkit dari kematiannya. Dengan berbalut kain kafan yang sudah berantakan, tanah pun menempel di sebagian tubuhnya. Mbah Suro pulang ke rumah.

Semua warga berlarian ketakutan. “Mbah Suro bangkit kembali.” teriak para tamu, ketakutan.

Seketika, acara tahlil terhenti. Lelaki tua berjanggut putih itu, luruh di lantai, tak bergerak. Mamaku mencoba mendekati Mbah, namun sebuah tangan mencegahnya, “biar, aku saja,” ucap Mbah Giarti pelan. Mama mundur, dan kembali menggenggam tanganku erat.

Aroma tanah yang basah, tercium kuat. Mbah Giarti menarik kain kafan yang tersingkap itu.

“Parman, tolong bantu aku, angkat Bapak ke kamar.” Pinta Mbah Giarti pada salah satu karyawannya.

“Tapi, Nyai Juragan, saya nggak berani, sumpah,” katanya dalam mimik kecemasan.

“Iz, kau ini!! Ayo bantu aku!” bentak Mbah Giarti garang.

Parman pun segera melakukan perintahnya. Walaupun dengan tangan gemetaran, diangkatnya tubuh Mbah Suro.

Semua yang ada dalam rumah tersebut, terpukau atas kejadian langka tersebut. Beberapa warga sudah ada yang pulang, karena ketakutan, ada juga yang masih tinggal di rumah Mbah Suro.

Malam yang mencekam, sementara itu, tanpa disadari penghuni rumah, ada sebuah asap, pelan bergerak meninggalkan ruang tengah melewati sebuah ventilasi udara.

Kini terlihat Mbah Suro, sedang duduk di kursi dalam kamarnya. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Rumah sudah dalam keadaan sepi hanya ada aku dan keluarga besar saja. Bahkan para asisten rumah tak ada yang berani mendekat. Mereka dalam ketakutan termasuk diriku.

Kulihat dari pintu yang terbuka, Mbah Giarti melepaskan kain kafannya dan menggantinya dengan pakaian yang bersih , mereka tak banyak cakap. Keduanya diam membisu seakan ada misteri diantara mereka. Tak lama Mbah Giarti mendekati pintu.

"Maaf, Bapak mau istirahat, bila ada yang ingin ditanyakan lebih baik besok saja. Oh ya Widuri, jangan pulang dulu, besok kita bicara." Mbah Giarti menatap mama, dengan tajam. Widuri adalah nama mamaku

Semua terdiam malam itu. Aku kembali ke kamar tidur, kulihat selintas, Papaku, sedang merokok di teras bersama mereka yang tersisa. Seraya menikmati sisa makanan jamuan tahlil. Kemungkinan, besok acara tahlil tidak diadakan lagi.

"Mah, kita pulang saja yuk, Maira takut tahu," ajakku pada mama. Aku masih takut dengan apa yang terjadi malam ini.

"Tenang Nduk, mama punya firasat buruk atas kejadian ini." Mama terdiam. Wajahnya mengeras, seakan mengingat sesuatu.

"Besok, kamu berangkat sekolah toh, pulangnya ke rumah Pade Dirjo ya? Katakan mama ada perlu sesuatu, dan ajak Pade Dirjo kemari ya." Perintah mama.

Pade Dirjo adalah anak angkat Mbah Suro. Pade tak datang dalam pemakaman kemarin karena suatu hal. Aku harus ke rumah Pade Dirjo besok.

Malam ini, aku lalui dalam aroma kemistisan. Bangun tidur dalam keadaan tubuh yang lelah, aku berpamitan ke mama dan papa yang masih terlihat biasa saja. Mbah Suro dan Mbah Giarti masih di dalam kamarnya.

Motor matic kulajukan pelan, meninggalkan rumah Mbah Suro. Isu Mbah Suro, mati suri pun sudah santer. Kulihat, beberapa awak media sudah ada di area rumah Mbah Suro. Benar kata mama, aku harus ke Pade Dirjo.

Pulang sekolah, kulanjutkan perjalanan menuju ke rumah Pade Dirjo, yang memakan waktu, hampir dua jam perjalanan.

"Assalamualaikum, Pade."

"Wallaikumsalam, masuk dan nanti nggak usah pulang ke sana, di sini saja! biar Pade yang ke rumah menyusul ibumu." cecar Pade panjang lebar.

"Pade, sebenarnya ada apa? Kok Pade tahu hal tersebut? Ibu sudah telepon?" Pade mengangguk, dan segera menyuruhku shalat Ashar.

Semburat warna senja menjelang malam, menghiasi langit. Kulihat Pade, sudah bersiap akan pergi.

"Aku ikut Pade," renggekku.

"Nggak usah, aku cuma mau menjemput ibumu, dan semua pintu jangan lupa kau kunci dari dalam, jangan tinggalkan shalat Magrib, Pade mau ke Abah Sodik dulu, ingat Maira! Jangan kembali ke rumah Mbah dulu, bahaya! Mengerti?”

"Pade ...."

"Jangan membantah!" Bentakan Pade, sungguh menyurutkan keinginanku. Tak lama deru motor besar sudah meraung hingga hilang dalam pendengaran.

Namun, aku yang penasaran sungguh tak bisa diam, dalam ke tidak tahunan. Nekat, aku ganti baju, dan langsung melajukan motor, pulang ke rumah Mbah Suro. Aku ngebut, meliuk dalam jalanan yang lenggang, belum satu setengah jam aku sudah sampai di rumah Mbah Suro.

Sengaja aku parkir di belakang rumah yang pintunya terbuka lebar. Entah kenapa, biasanya ada Mang Entis dan beberapa pekerja yang masih bertugas.

Tapi kali ini sepi, tak ada satu pun para pekerja. Apa mereka di dalam rumah utama? Aku melangkah pelan, agaknya Pade Dirjo belum sampai rumah Mbah Suro, atau Pade belum selesai urusan dengan Abah Sodik?

Sepi amat, pikirku, bahkan dapur pun masih dalam keadaan gelap. Pelan aku melangkah ke arah kamar Mama.

Kreeitt... Bunyi pintu terbuka, tak ada mamaku di sana, Papa? Kemana Papa? Ku lirik pintu kamar Mbah Suro. Hai, pintu itu agak terbuka. Penasaran, Segera aku menuju kamar tersebut, masuk pelan ke dalamnya.

Ternyata kamar Mbah Suro luas sekali. Ada beberapa kursi yang terbuat dari rotan berjejer membelakangi pintu. Aku jarang masuk ke dalam kamar ini, sejak dua tahun yang lalu. Semua serba dengan peraturan dari Mbah Giarti. Terakhir aku, lihat, semalam, Mbah Suro di kursi itu.

Tapi, tiba-tiba ... Aku dikagetkan dengan napas yang memburu, tapi aku tidak tahu dari mana asalnya.Aku melihat ada kain menjuntai dari sisi sebuah kursi, kain bercorak tersebut, aku hapal sekali, itu baju gamis milik Mama. Segera, kakiku melangkah pelan ke kursi tersebut.

Ahhh! Aku terpekik kaget, ternyata Mama yang terduduk, dalam wajah ketakutan, matanya melotot dan napas yang memburu itu, berasal dari napas Mama. Di mulutnya, tersumpal semacam kain berwarna hitam, eh, bukan kain tapi rambut!

Rambut itu membekap mulut Ibu. Aku hendak menolong mama, tapi kudengar langkah kaki mendekati kamar. Secepatnya, aku berusaha bersembunyi, dalam lemari kosong.

Kuintip dari sela pintu lemari, yang tak tertutup rapat. Jantungku berdetak kencang. Napas memburu. Namun aku berusaha tenang. Ketakutan mulai melanda, disaat Mbah Giarti masuk bersama Papaku!

"Semua sudah dalam genggamanku, istrimu, suamiku sudah bisa aku kendalikan." Suara Mbah Giarti terdengar berat dan menakutkan.

"Ya, kapan manik dalam suamimu kau pindahkan ke tubuhku. Aku sudah tak sabar lagi." Suara Papa terdengar aneh.

"Nanti! tunggu aku bisa keluarkan manik itu. Kau, harus kuat dan sebentar lagi aku akan menguasai semua harta Suro." Terdengar tawa kemenangan dari Mbah Giarti, parau.

Mama terdiam di kursi dalam paras ketakutan. Apa sebenarnya yang sudah mamaku lihat?

Apakah? Papa? Mengapa papa bekerja sama dengan Mbah Giarti? Kemudian saat papaku, membalikkan sebuah kursi yang tertutup kain hitam, ternyata ... Itu Mbah Suro!

Mbah Suro terlihat terdiam, wajah dan seluruh tubuhnya, tertutup lilitan rambut berwarna hitam legam. Membelitnya dengan erat.

"Dengan adanya kabar Suro kembali hidup, alias mati suri, maka surat wasiat itu tidak akan terbongkar. Aku dendam! karena harta warisan hanya untuk Widuri saja! Dasar tua bangka!" Mbah Giarti menyabetkan pecutnya ke tubuh Mbah Suro.

"Siapa bilang kau hebat, hah! Aku mau menikah denganmu karena aku hanya mengincar manik dalam tubuhmu!" Teriak Mbah Giarti.

“Dan, Kau! Widuri, aku sebenarnya sebel dan benci dengan dirimu, untung suamimu hanya berpura-pura peduli saja denganmu, bayangkan aku harus menelan rasa benciku hingga bertahun-tahun!”

“Sudahlah, Giarti. Kau sendiri tahu, cintaku hanya untukmu, lagian aku pun hanya numpang hidup dan makan saja sama wanita jelek ini.” Papa terlihat memeluk Mbah Giarti mesra, bahkan mereka melakukan hal menjijikkan di hadapan Mama. Pantas saja mata Mama melotot melihat pengkhianatan tersebut.

Aku menjadi geram atas perbuatan mereka, tapi rasa takutku sungguh menguasai seluruh alam pikiranku. Aku tak bisa berbuat apa-apa.

Tiba-tiba, wajah Papa terlihat berkamuflase, hidungnya membesar, telinganya semakin meruncing, Bahkan tubuhnya yang tadinya normal, kini mulai menggelembung, menyerupai babi hutan.

Pemandangan yang tak aku kira tersebut, membuatku ketakutan. hingga aku pun, terjatuh dari dalam lemari.

"Meira!" Mereka menoleh ke arahku dan menatapku nyalang, aku kaget atas penampakan rupa papa, yang tak aku duga. Wajahnya menghitam sebelah, dan matanya terlihat merah.

Dalam ketakutan, segera aku berlari menerobos pintu yang masih terbuka sedikit. Napasku memburu dalam ketakutan, dan terdengar bunyi pecut menggelegar di lantai.

Sesaat langkahku limbung, karena kurasakan lantai yang aku pijak terasa bergetar dan bergelombang. Dalam hitungan detik saja, ada segumpal rambut panjang mengejarku, bak ular, rambut itu meliuk cepat, mengejar langkahku yang terseok-seok.

Tubuhku limbung tak bisa menguasai lantai yang bergoyang. Kakiku mulai dirambati rambut yang panjang dan hidup. Hingga tubuhku ini tertutup kencang oleh rambut tersebut. Napasku mulai sesak. Terdengar tawa kemenangan dari Mbah Giarti.

"Kau tidak akan bisa lolos dari cambuk rambutku, Maira!"

Napasku terasa sudah diujung, mulutku terbuka, entah apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan nyawaku. Aku tak bisa lagi bernapas.

“Ahhgg... Mama”, erangku tercekat di tenggorokan. Mataku seakan ingin terlepas dari tempatnya.

Napasku aku atur satu-satu, tiba-tiba, wajah Mbah Suro tepat berada di depanku, matanya terpejam, bau anyir dan amis, langsung menyeruak dalam penciumanku.

Itu bukan wajah saja. Tapi kepala, ya kepala Mbah Suro! menggelinding tepat di depan mataku. Pandanganku semakin kabur.

Lamat-lamat aku dengar lantunan ayat suci Alquran berkumandang.

Beberapa langkah kaki berderap aku dengar. Lalu, aku lihat bayangan putih berkelebat bertarung dengan Mbah Giarti.

Terlihat Pade Dirjo sudah masuk rumah, diikuti beberapa aparat dari kepolisian. Kulihat Abah Sodik menebas rambut yang melilit tubuhku, seketika rambut itu mengendur dan terdiam.

Kembali aku bisa bernafas. Secepat kilat, ada sebuah tangan menggendong tubuhku keluar dari rumah Mbah Suro. Mataku terpejam, suaraku tercekat, Aku nggak mau mati! Batinku terdalam.

Terdengar lengkingan dari Mbah Giarti, juga suara grok-grok yang amat keras. Kemudian, aku kembali tak ingat apa-apa lagi.

*****

Pagi mengalahkan malam, suasana hatiku dalam keadaan muram. Aku duduk di sisi ranjang, dan Pade Dirjo terdiam.

"Maira, semua sudah terlambat, ibumu sudah meninggal, ayahmu dan ibu Giarti dalam proses penahanan pihak kepolisian. Maafkan Pade tidak berterus terang padamu."

"Mama ..." Akhirnya pecahlah tangisanku. Tak kusangka akan berakhir tragis, kehilangan seorang ibu secepat ini.

"Maafkan Maira juga Pade, tak menuruti nasehat Pade, untuk tinggal saja di rumah karena bahaya, Maira tak menyangka kalau Papa ..." Kembali aku menangis.

Pade mendekat dan mencoba menenangkan tangisku.

"Sekarang, Maira menjadi tanggung jawab Pade, semua sudah diatur yang Maha kuasa. Saat ini fokuslah sekolah ya, biar Pade yang urus semuanya. Ada beberapa surat penting dari Mbah Suro, itu Pade sudah ketahui semuanya, hanya orang-orang yang tak bertanggung jawab yang ingin berbuat licik hingga menjadi tindakan yang kejam, apalagi sudah melanggar syariah Islam."

"Pade, maafkan Maira ..."

"Ya, mulailah dengan harapan baru, untuk masa depanmu ya, jangan kecewakan ibumu."

Aku mengangguk, seandainya Pade, tak menghubungi Abah Sodik, pasti aku tak bisa tertolong oleh rambut jahanam tersebut, dan Pade membawa beberapa polisi, karena Pade tahu, hal tersebut, pasti ada sesuatu yang akan terjadi.

Yang tak aku terima, Papa sudah bekerja sama dengan Mbah Giarti untuk mengambil semua harta Mbah Suro yang jelas sekali surat wasiat Mbah Suro, berisi kuasa atas pelimpahan hartanya hanya untuk Pade Dirjo dan Ibu Widuri.

Beberapa bulan telah berlalu. Namun, kejadian tragedi itu masih terngiang dalam ingatanku. Rumah Mbah Suro, dalam sengketa Bank. Itu pun perbuatan Mbah Giarti.

Yang aku pikirkan saat ini, adalah pembicaraan mereka tentang manik. Apa itu manik?

Mengapa Papa begitu membutuhkan manik itu? Juga perubahan wujud Papa. Aku terhenyak.

Segera, aku pergi ke daerah asal Papaku, di Kulonprogo. Sungguh tak habis pikir. Tak ada satu pun silsilah keluarga Papaku. Aku pun kembali dalam kekecewaan.

“Pade, siapa sebenarnya, Papaku?” tanyaku pada pade Jarot.

Antara beban yang berat Pade menjawab, “ibumu dijodohkan dengan ayahmu.”

“Siapa yang menjodohkan?”

“Giarti.”

Aku kaget atas jawaban Pade. Mengapa wanita itu?

“Satu lagi Pade, mengapa Papa begitu inginnya memiliki manik dalam tubuh Mbah Suro?”

“Karena, Ayahmu adalah siluman yang ingin menjadi manusia.”

“Hah! Pade tahu semua ini, tapi diam saja!”

“Pade pun, tahu setelah ibumu yang menceritakan sebelum Bapak kami meninggal.”

“Pade ... Lalu aku? Aku keturunan siluman?” Mataku tak kuasa untuk menangis.

Pade menghela napasnya, “tunggu, lihat Pade!”

Saat itu juga, pade meremas sesuatu dalam genggamannya, lama kelamaan, tangan itu mengeluarkan asap. Kepulan asap itu diam, tak langsung menyebar. Aku termangu melihat hal tersebut.

“Maira, perintahkan asap itu, untuk keluar?”

“Apa! Pade ada-ada saja.”

Pade terus memandang ponakannya yang istimewa tersebut. Tanpa ragu, aku pun segera mengucapkan kata “Pergi!”

Pelan kepulan asap tersebut keluar lewat pintu dan menghilang.

“Katakan, pulang.” Perintah Pade lagi.

“Pulang!” seruku.

Tak lama asap itu kembali lagi, masuk dalam genggaman tangan Pade Jarot.

“Itulah, manik milik Mbah Suro. Bila ayahmu memilikinya, sungguh, kejahatan apa yang akan dia perbuat.”

Aku terdiam, lalu, “mengapa asap itu, menurut apa kataku.”

“Kau pilihan Mbah Suro.”

“Pade?!!”

Ada senyum kemenangan dalam diri lelaki jangkung tersebut. Selama ini, dia hanyalah anak angkat dari Mbah Suro.

Welingan atau pesan dari Bapak angkatnya sangatlah diperhatikan sekali. Apa lagi, gadis yang beranjak dewasa di depannya adalah darah dangingnya sendiri.

Betapa lamanya rahasia itu tersimpan, hingga sampai pada waktunya, Widuri pun mengatakan sejujurnya pada Bapaknya tentang rahasia tersebut.

Mbah Suro kaget, jantung tuanya, tak sanggup menerima berita itu. Hingga malam itu, Mbah Suro, terdiam dan tertidur untuk selamanya.

Namun, ada peristiwa yang tak terungkap, pasal kopi yang tersisa milik Mbah Suro, terdapat racun sianida.

Brak! Tiba-tiba, ada benda jatuh dari belakang rumah Pade, “Tunggu di sini! Aku akan memeriksanya.”

Aku, hanya bisa duduk tanpa berkata apa-apa. Kejadian malam itu, kembali terngiang.

Brak! Kali ini, suara keras itu terdengar di dekatku. Jendela itu, terbuka sendiri!

Napas Ku terhenti, kaget tiada kira. Angin besar itu mampu mendobrak, jendela kayu yang memang sudah terkunci.

Pade Jarot belum kembali juga dari belakang.

“Siapa itu?!” Aku beranikan diri untuk bertanya, dan mencoba mendekati jendela itu.

Lilitan rambut panjang dan erat itu, menjadikan aku agak trauma dan takut untuk kedua kalinya.

Di luar gelap gulita, tak ada satu pun motor yang melintas. Aku melongok, keluar jendela. Memastikan semua aman terkendali.

Seketika, ada sesuatu yang terlempar dari luar, aroma amis dan apek, berpadu, aromanya membuatku ingin muntah.

Saat aku lihat benda tersebut, sungguh aku kaget dan menjerit. Pasalnya yang jatuh dan masuk lewat jendela, itu adalah kepala Mbah Suro!!

Brebes, 1 Oktober 2023

Penulis Cerpen Berjudul Tragedi Mati Suri

El Dziken, salah satu warga Saung Karsa. Cerpen ini adalah karya beliau saat mengikuti event October Horror Fest 2023 yang diadakan secara internal oleh Komunitas Saung Karsa.

Teman-teman bisa menyapa Kak El Dziken melalui media sosial berupa Facebook dan Instagram dengan user name elfisriwulandari.

Label:

Bagikan:

0 komentar